Skip to main content

PIALA DUNIA 1994, AWAL DARI SEGALANYA

Kegemaran saya dengan olah raga khususnya sepak bola, bermula dari Piala Dunia 1994 di Amerika Serikat. Orang Amrik sepertinya bangga banget bisa jadi tuan rumah olah raga paling populer se-dunia, meski di negeri Paman Sam itu, cabang sepak bola kalah tenar ketimbang American Football, Basket, Baseball atau mungkin juga Hoki Es.

Saking bangga-nya mereka, promosi-nya pun gila-gilaan. Saya yang kala itu masih kelas 4 SD, kena dampaknya. Sampe-sampe minta dibelikan album Panini Piala Dunia 1994 ke bokap. Sedikit bernostalgia, format album ini lumayan tenar di era 90-an.  Umumnya berupa album yang harus dilengkapi dengan berbagai stiker muka-muka pemain.

Khusus album Panini untuk PD 1994, ogut akhirnya dibelikan ayah di Gramedia Matraman, Jakarta.
Namanya saja yang album, tapi bentuknya lebih mirip majalah... Isinya soal tim-tim kontestan, lengkap dengan pemain dan pelatih. Tapi yang bikin lebih menarik, para pembeli harus melengkapi album tersebut dengan foto-foto stiker baik pemain dan pelatih. Jadi pas kita beli, ya isi albumnya masih kosong.




BOKAP LUMAYAN PROTES
Kontestan PD 1994 ada 24 tim. Masing-masing tim dihuni sekitar 23 pemain + 1 pelatih kepala. Jadi jika ditotal, kita harus ngumpulin sekitar 576 stiker muka dari sosok-sosok tersebut (24 tim x 24 personil tim). Nah, pihak produsen album Panini tersebut menjual stiker-stiker muka pemain dan pelatih tersebut dalam bentuk 1 pack khusus. Tiap pack kalau ga salah berisi 10 stiker waktu itu.

Nah biar albumnya cepet lengkap, bokap yang masih awam pun beli sekitar 57 pack, dengan asumsi bakal dapat sekitar 570 stiker. Cuma ternyata tiap pack yang dilempar ke pasaran, isi stiker-nya random semua a.k.a acak. Artinya, bisa aja di satu pack dan pack lainnya terdapat stiker pemain yang sama. Karena mengandung semacam teori probibilitas seperti ini, bokap pun protes.

"Jadi, percuma dong kalau saya beli 57 pack sekaligus, tapi ada kemungkinan dapat stiker pemain yang sama?! Bilang dong dari awal. Jadi kan, saya tidak harus sampai langsung beli 57 pack sekaligus," ujar  bokap dengan nada tinggi.  Saya, abang dan adik-adik serta nyokap jadi ikutan bingung karena jadi perhatian pengunjung lain.

Namun karena sudah terlanjur membayar, kami akhirnya membawa pulang album beserta 570 stiker tersebut. Begitu kami tempel stikernya satu per satu ke dalam album, memang ada beberapa stiker pemain yang sama. Namun jumlahnya tak terlalu banyak. Bisa dibilang, sekitar 75% album Panini kami sudah terisi. Saya, abang dan adik pun jadi berlomba-lomba untuk menghafal muka hingga data diri lengkap masing-masing pemain.

HAGI, DAHLIN, STOICHKOV DAN KEJUTAN LAINNYA
Kick-off PD 94 pun tiba. Berbekal pengetahuan dari Panini, saya jadi makin antusias. Sayang perbedaan waktu di Amerika dan Indonesia membuat sebagian besar pertandingan justru tayang pada pagi hari, bentrok dengan jadwal ke sekolah. Saya pun terpaksa menunggu tayangan Dunia Dalam Berita setiap malam guna melihat highlight pertandingan dan beragam kabar update lain tentang PD 94.

Oiya, karena waktu itu Liga Italia Serie A sudah rutin tayang di tivi, saya pun tertular menjadi fans  Azzurri karbitan. Kenapa karbitan? Wong cuma kenal beberapa pemain tenar seperti Paolo Maldini dan Franco Baresi. Itupun lebih karena keduanya merupakan pemain Milan yang pada era tersebut memang tenar karena trio Belanda-nya: Gullit, Rijkaard, dan Basten.

Gak heran, saya baru ngeh kalau ada Baggio lain selain Roberto, yakni Dino Baggio, si pencetak gol perdana Italia di PD 94 (game kedua vs Norwegia, skor 1-1).  Belakangan, duo-Baggio ini juga sama-sama cetak gol saat Italia menang 2-1 versus Spanyol di perempat final.

Soal skuat Italia lainnya, saya juga baru tau kalau ada pemain kecil tapi lincah semacam Gian Zola. Itu pun taunya karena doi kena kartu merah, hanya beberapa menit setelah doi masuk lapangan versus Nigeria di babak 16 besar.

Dari tim-tim lain juga muncul banyak kejutan. Apalagi sejak awal turnamen, saya sering diceritain sama ayah ataupun om-om saya soal tim-tim calon juara seperti Argentina dan Jerman. Faktanya, dua tim itu justru harus angkat koper lebih awal dari Negeri Paman Sam. Argen tumbang dari Rumania dan George Hagi-nya di babak 16 besar. Jerman takluk dari Bulgaria dan Hristo Stoichkov-nya.

Selain Hagi, di Rumania juga ada Ilie Dumitrescu. Waktu nyingkirin Argentina 3-2, pemain ini nyetak dua gol awal Rumania dan satu assist untuk gol ketiga yang dicetak Gheorghe Hagi. Selain itu, ada juga Florin Raducioiu, top skor Rumania di AS 1994 lewat koleksi empat gol. Oiya, musim terakhir sebelum PD 1994 digelar, pemain ini tampil berseragam Milan.

Namun langkah Rumania terpaka berhenti di perempat final usai takluk dari tim Kuda Hitam lainnya, Swedia, yang kala itu mengandalkan si Baby Face, Thomas Brolin, serta striker yang juga agak unik karena kulitnya yang gelap, Martin Dahlin.

Selain Brolin dan Dahlin, juga masih ada nama Henrik Larsson, yang merupakan salah satu rising-star andalan Swedia, mengingat umurnya yang kala itu masih 23 tahun. Terbukti begitu nama Brolin dan Dahlin redup usai USA 1994, nama Larsson justru melambung. Ia sempat membela Barcelona dan Manchester United.

Berikut penampakan Si Baby-Face Brolin, Si Negro Dahlin, dan Si Corn-Row Larsson...




Cukup soal Rumania dan Swedia. Sekarang lanjut ke Bulgaria. Tim Kuda Hitam lain yang nyingkirin Jerman, lengkap dengan Jurgen Klinsmann dan Lothar Mathhaeus-nya, di babak perempat final. Der Panzer sebenarnya unggul dulu lewat gol sang kapten (Mathhaeus) pada menit 47.

Namun Bulgaria membalas lewat gol pemain andalan mereka yang juga merupakan andalan Barcelona, Hristo Stoickov, menit ke-75. Tiga menit berselang, keadaan berbalik setelah gelandang  Bulgaria, Yordan Letchkov, mencetak gol kemenangan Bulgaria

Nama Letchkov pun semakin melambung. Namun selain karena kepala perawakannya yg mudah dikenali (berkepala plontos) dan gol diving-header nya yg indah ke gawang Jerman, Letchkov pada era itu, merupakan pemain andalan salah satu tim di Bundesliga, Hamburg VC. Beberapa pengamat menilai, pengalaman Letchkov di Bundeliga itu pula yg berperan membuatnya tampil bagus menyingkirkan Jerman. Mungkin karena udah terbiasa tampil di Bundesliga kali yaa..

Ini saya kumpulin beberapa foto proses terjadinya gol Letchkov yang cukup memorable tersebut:



KEJUTAN BERAKHIR
Semifinal PD 1994 akhirnya mempertemukan Italia vs Bulgaria dan Brasil vs Swedia. Pada fase ini, tak ada lagi kejutan yang terjadi. Bulgaria takluk 1-2 lewat aksi ciamik Roberto Baggio (dua gol), sedangkan Swedia kalah tipis 0-1 dari Brasi lewat gol sang striker andalan, Romario.

Pada perebutan tempat ketiga, Swedia menang telak 4-0  atas Bulgaria. Hasil akhir tersebut memang agak terkesan berat sebelah, tapi berdasarkan statistik, Bulgaria sebenarnya membuat lebih banyak peluang dan unggul penguasaan bola.

Sementara itu di laga final, sepertinya banyak orang yang masih mengingat bagaimana tendangan Franco Baresi dan Baggio justru melambung jauh di babak adu penalti, yang kemudian berujung gelar juara bagi tim Samba. 

Kala itu, Baresi menjadi penendang pertama bagi Italia, sedangkan Baggio diberi kepercayaan menjadi penendang terakhir atau penentu. Hingga masa akhir pensiun sebagai pemain, Baggio beberapa kali mengemukakan bahwa kegagalan itu terus terbayang di benak-nya.




Sementara sukses Brasil seakan menegaskan betapa talenta-talenta yang mereka miliki kala itu memang menjadi modal nan layak untuk menguasai dunia, di antaranya Romario, Bebeto, Carlos Dunga, Roberto Carlos, Cafu, termasuk sang fenomal yang kala itu masih belia, Ronaldo.



Saya ingat, kekalahan Italia dari Brasil itu menghadirkan kesedihan beberapa hari. Namun di sisi lain, saya juga bersyukur karena berkat Album Panini PD 1994 yang dibelikan ayah, saya jadi mulai mengenal sepak bola.

Garis hidup memang tak membawa saya sebagai pelaku aktif di lapangan hijau (sebagai pemain), meski demikian hampir 10 tahun saya rutin berada di pinggir lapangan, di belakang gawang, atau  tribun penonton... baik ebagai jurnalis olah raga, atau pun sekedar sebagai penikmat.

Oleee...!! 


















Comments